Tugas Kelompok Pengantar Telematika & Arsitektur
Febri Inayah 12110681
Siti Soleha 16110621
Kelas : 4KA11
Perkembangan
Telematika dan Kaitannya Dengan Komputer
Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) secara umum adalah semua yang teknologi
berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan (akuisisi), pengolahan,
penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi (Kementerian Negara Riset dan
Teknologi, 2006: 6). Tercakup dalam definisi tersebut adalah semua perangkat
keras, perangkat lunak, kandungan isi, dan infrastruktur komputer maupun
(tele)komunikasi. Istilah TIK atau ICT (Information and Communication
Technology), atau yang di kalangan negara Asia berbahasa Inggris disebut
sebagai Infocom, muncul setelah berpadunya teknologi komputer (baik
perangkat keras maupun perangkat lunaknya) dan teknologi komunikasi sebagai
sarana penyebaran informasi pada paruh kedua abad ke-20. Perpaduan kedua
teknologi tersebut berkembang sangat pesat, jauh melampaui bidang-bidang
teknologi lainnya. Bahkan sampai awal abad ke-21 ini, dipercaya bahwa bidang
TIK masih akan terus pesat berkembang dan belum terlihat titik jenuhnya sampai
beberapa dekade mendatang. Pada tingkat global, perkembangan TIK telah
mempengaruhi seluruh bidang kehidupan umat manusia. Intrusi TIK ke dalam
bidang-bidang teknologi lain telah sedemikian jauh sehingga tidak ada satupun
peralatan hasil inovasi teknologi yang tidak memanfaatkan perangkat TIK.
Membicarakan
pengaruh TIK pada berbagai bidang lain tentu memerlukan waktu diskusi yang
sangat panjang. Dalam makalah ini, kaitan TIK dengan proses pembelajaran
disoroti lebih dibanding dengan kaitannya dengan bidang lain. Tanpa mengecilkan
pengaruh TIK di bidang lain, bidang pembelajaran mendapatkan manfaat lebih
dalam kaitannya dengan kemampuan TIK mengolah dan menyebarkan informasi.
1.1 Rumusan
Masalah
Perkembangan
dan kemajuan yang pesat dibidang Telematika atau Teknologi Informasi dan
Komunikasi di Indonesia memicu berbagai dampak baik yang bersifat positif
maupun negatif masyarakat Indonesia sendiri sebagai pengguna. Oleh karenanya
dibutuhkan berbagai pencegahan maupun tindakan preventif dari pemerintah
sebagai pembuat aturan hukum di Indonesia untuk mengurangi dampak negatif dari
kemajuan Telematika tersebut. Salah satu dari upaya pemerintah tersebut adalah
pembuatan peraturan perundang-undangan yang mengatur lalu lintas transaksi
elektronik yang menggunakan bidang Telematika sebagai sarananya. Makalah ini
akan memaparkan aspek hukum tersebut yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sebagai salah satu acuan
penegakkan hukum di Indonesia dibidang Telematika.
1.2 Tujuan
Tujuan
pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami definisi dan
perkembangan Telematika atau Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia
beserta produk-produk hukum yang dibuat pemerintah yang menyertai perkembangan
bidang teknologi yang berbasiskan informasi tersebut.
2.1 Definisi
Telematika
Kata TELEMATIKA, berasal dari istilah dalam bahasa
Perancis “TELEMATIQUE” yang merujuk padabertemunya sistem jaringan
komunikasi dengan teknologi informasi. Istilah Teknologi Informasi itu sendiri
merujuk pada perkembangan teknologi perangkat-perangkat pengolah informasi.
Para praktisi menyatakan bahwa TELEMATICS adalah
singkatan dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah Telematics juga dikenal
sebagai “the new hybrid technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital.
Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah “konvergensi”. Semula Media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan
komunikasi pada saat itu.Belakangan baru disadari bahwa penggunaan sistem
komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghadirkan Media Komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah TELEMATIKA kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi TELEKOMUNIKASI, MEDIA dan INFORMATIKA yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi TELEMATIKA kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau “the Net”. Dalam perkembangannya istilah Media dalam TELEMATIKA berkembang menjadi wacana MULTIMEDIA. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah Multimedia semula hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium. Adalah suatu ambiguitas jika istilah TELEMATIKA dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika. Secara garis besar istilah Teknologi Informasi (TI), TELEMATIKA, MULTIMEDIA, maupun Information and Communication Technologies (ICT) mungkin tidak jauh berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan sudut pandang pengkajiannya.
singkatan dari “TELECOMMUNICATION and INFORMATICS” sebagai wujud dari perpaduan konsep Computing and Communication. Istilah Telematics juga dikenal
sebagai “the new hybrid technology” yang lahir karena perkembangan teknologi digital.
Perkembangan ini memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau populer dengan istilah “konvergensi”. Semula Media masih belum menjadi bagian integral dari isu konvergensi teknologi informasi dan
komunikasi pada saat itu.Belakangan baru disadari bahwa penggunaan sistem
komputer dan sistem komunikasi ternyata juga menghadirkan Media Komunikasi baru. Lebih jauh lagi istilah TELEMATIKA kemudian merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi TELEKOMUNIKASI, MEDIA dan INFORMATIKA yang semula masing-masing berkembang secara terpisah. Konvergensi TELEMATIKA kemudian dipahami sebagai sistem elektronik berbasiskan teknologi digital atau “the Net”. Dalam perkembangannya istilah Media dalam TELEMATIKA berkembang menjadi wacana MULTIMEDIA. Hal ini sedikit membingungkan masyarakat, karena istilah Multimedia semula hanya merujuk pada kemampuan sistem komputer untuk mengolah informasi dalam berbagai medium. Adalah suatu ambiguitas jika istilah TELEMATIKA dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika. Secara garis besar istilah Teknologi Informasi (TI), TELEMATIKA, MULTIMEDIA, maupun Information and Communication Technologies (ICT) mungkin tidak jauh berbeda maknanya, namun sebagai definisi sangat tergantung kepada lingkup dan sudut pandang pengkajiannya.
Istilah
telematika sering dipakai untuk beberapa macam bidang, sebagai contoh adalah:
- Integrasi antara sistem telekomunikasi dan informatika yang dikenal sebagai Teknologi Komunikasi dan Informatika atau ICT (Information and Communications Technology). Secara lebih spesifik, ICT merupakan ilmu yang berkaitan dengan pengiriman, penerimaan dan penyimpanan informasi dengan menggunakan peralatan telekomunikasi.
- Secara umum, istilah telematika dipakai juga untuk teknologi Sistem Navigasi/Penempatan Global atau GPS (Global Positioning System) sebagai bagian integral dari komputer dan teknologi komunikasi berpindah (mobile communication technology).
- Secara lebih spesifik, istilah telematika dipakai untuk bidang kendaraan dan lalu-lintas (road vehicles dan vehicle telematics). Seiring dengan semakin populernya Inter-Net sebagai “the network of the networks”, masyarakat penggunanya (internet global community) seakan-akan mendapati suatu dunia baru yang dinamakan cyberspace yang merupakan khayalan tentang adanya alam lain pada saat teknologi telekomunikasi dan informatika bertemu. Di “alam baru” ini - bagi kebanyakan netter - tidak ada hukum. Karena tidak adanya kedaulatan dalam jaringan komputer maha besar (gigantic network) ini, mereka beranggapan bahwa tidak ada satupun hukum suatu negara yang berlaku, karena hukum network tumbuh dari kalangan mayarakat global penggunanya. “Alam baru”ini seakan-akan menjadi suatu jawaban dari impian untuk melampiaskan kebebasan berkomunikasi (free flow of information) dan kebebasan mengemukakan pendapat (freedom of speech) tanpa mengindahkan lagi norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
2.2 Ruang Lingkup Telematika
Lingkup pengkajian Hukum Telematika dapat terbagi dua komponen.
Komponen yang pertama berkaitan dengan komponen yang terkait dengan sistem,
misalnya perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, manusia dan
informasi. Komponen yang kedua adalah berkaitan dengan fungsi-fungsi
telekomunikasi, misalnya input, proses, output, penyimpanan, komunikasi.
Kedua komponen tersebut dikenal dalam 4 komponen yaitu:
- Content, yaitu substansi dari data yang dapat merupakan output/input dari penyelenggaraan sistem informasi yang disampaikan kepada publik.
- Computing, yaitu suatu siste pengolah informasi yang berbasiskan sistem komputer yang merupakan computer network yang efisien, efektif dan legal.
- Comunnication, yaitu keberadaan sistem komunikasi dari sistem interconnection, global interpersonal, computer network.
- Community, yaitu masyarakat sebagai pelaku intelektual.
2.3 Cyber – Cyberspace – Cibernetic – Cyber Law – Hukum
Telematika
Keberadaan Telematika, berkaitan dengan perkembangan internet yang pada
awalnya memberikan dunia baru bagi masyarakat dunia. Dunia baru yang
seakan-akan ditemukan tersebut bernama Cyberspace. Istilah Cyberspace
menjadi populer setelah istilah tersebut digunakan dalam novel science fiction,
karya William Gibson. Cyberspace menggambarkan suatu halusinasi adanya
alam lain yang mempertemukan teknologi telekomunikasi dan informatika, yang
seakan-akan terdapat ruang dalam medium Cyber. Asal usul kata Cyber
diartikan sebagai kawat listrik. Cyberspace dapat diartikan sebagai jaringan
komputer mahabesar (gigantic network) tanpa adanya penguasa tunggal mutlak,
tanpa ada satu pun hukum suatu negara yang berlaku. Cyberspace merupakan medium
komunikasi global yang didasarkan atas kebebasan berinformasi (freedom of
information) dan kebebasan berkomunikasi (free flow of information), keberadaan
alam yang baru ini seakan-akan menjadi jawaban dari impian untuk melampiaskan
kebebasan mengemukakan pendapat (free of speech). Seiring dengan perkembangan Cyberspace sebagai medium komunikasi global
antar subjek yang dapat berkomunikasi, memunculkan pula hak dan kewajiban dari
tiap-tiap subjek. Hal tersebut membuat banyak negara yang mencoba
mengatur keberadaan alam baru tersebut. Dibeberapa negara dikenal istilah
Cyberlaw atau Cyberspace law. Kedua istilah
tersebut, secara sekilas memiliki makna yang sama. Namun, apabila
ditelaah lebih lanjut, muncul perbedaan yang berpengaruh dari penggunaan kedua
istilah tersebut. Menurut Edmon Makarim, istilah yang cocok adalah
Cyberspace Law karena hukum yang berlaku adalah hukum yang dilaksanakan pada
medium Cyberspace, sedangkan penggunaan istilah Cyberlaw, lebih cocok digunakan
untuk hukum-hukum ilmu fisika yang berkaitan dengan arus listrik dalam
kawat. Hal tersebut dikaitkan dengan arti istilah cyber, yang sudah
disebutkan sebelumnya, yaitu kawat listrik. Namun demikian, apabila ditelaah
lebih lanjut, istilah Cyberspace Law juga tidak begitu tepat, karena istilah
ini hanya berbicara tentang halusinasi alam virtual. Istilah yang tepat
adalah Hukum Telematika, karena makna dari Telematika dikaitkan dengan
Cyberspace yaitu pada hakikatnya merupakan suatu sistem elektronika yang lahir
dari hasil perkembangan dan konvergensi telekomunikasi, media dan informatika
itu sendiri. Hukum Telematika diartikan pula sebaggai suatu hukum yang
mengembangkan konvergensi telematika yang berwujud dalam penyelenggaraan suatu
sistem elektronik, baik yang terkoneksi melalui internet atau tidak. Meskipun
demikian istilah yang digunakan untuk hukum yang mengatur di dunia Cyber belum seragam, karena seperti yang diuraikan oleh
Ahmad M. Ramli yang lebih memilih istilah Cyberlaw atau Hukum
Siber. Hal tersebut dikaitkan dengan makna Cyberlaw yang dilandasi dengan
pemikiran bahwa istilah Cyber jika diidentikan dengan dunia maya akan cukup
menghadapi persoalan ketika terkait dengan pembuktian dan penegakan hukum.
Berkaitan dengan istilah Cyber, dikenal pula istilah Cybernetic, yang
dikenalkan oleh Noebert Winner, pakar matematika yang mengenalkan istilah
Cyberspace teory. Makna dari Cybernetic teory adalah teori yang ditujukan
untuk pendekatan interdisipliner dalam uraian sistem kendali dan komunikasi
dari manusia, hewan mesin dan organisasi yang mengutamakan umpan baik
(feedback). Berdasarkan teori tersebut, dapat diambilmaknanya yaitu dalam
memahami suatu penyampaian informasi yang disampaikan dalam sutu sistem
komunikasi yang baik, selayaknya harus dengan memerhatikan unpan balik
(feedback) dari sistem tersebut.
2.4 Perkembangan Teknologi Informasi
dan Komunikasi
Bila dilacak
ke belakang, terdapat beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata
memberi sumbangan terhadap eksistensi TIK saat ini. Pertama adalah temuan
telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian
ditindaklanjuti dengan penggelaran jaringan komunikasi dengan kabel yang
melilit seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel
komunikasi trans-atlantik. Inilah infrastruktur masif pertama yang dibangun
manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun
1910-1920, terealisasi transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang
pertama (Lallana, 2003:5).
Komunikasi
suara tanpa kabel segera berkembang pesat, dan kemudian bahkan diikuti pula
oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada
tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943, yang
kemudian diikuti oleh tahapan miniaturisai komponen elektronik melalui penemuan
transistor pada tahun 1947, dan rangkaian terpadu (integrated electronics)
pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan soko guru
TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era perang dingin. Persaingan
IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (eks Uni Sovyet)
justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi
rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang.
Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada
puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’
perangkat keras komputer, dan terus berevolusi sampai saat ini.
Di lain
pihak, perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat mulai
diimplementasi-kannya teknologi digital menggantikan teknologi analog yang
mulai menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi
perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang
dari awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil
konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas
infrastruktur telekomunikasi dan komputasi inilah kandungan isi (content)
berupa multimedia, mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi
telekomunikasi-komputasi-multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21,
sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri
menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia maka revolusi digital
(karena konvergensi telekomunikasi-komputasi-multimedia terjadi melalui
implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau
setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.
Indonesia
pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk maksud yang
kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary
mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication+informatics
(telekomunikasi+informatika) meskipun sebelumnya kata itu
bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan
pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk
dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk bidang pendidikan.
Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit,
animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan, sangat menarik minat praktisi
pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak
terkendala waktu dan tempat, juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan
itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book,
e-learning, e-laboratory, e-education, e-library dan sebagainya. Awalan e-
bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi
elektronika digital.
2.5 Sejarah
Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia
Menurut
catatan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), teknologi komputer
baru diperkenalkan di Indonesia dalam kurun antara tahun waktu 1970-1972-an.
Universitas Indonesia termasuk salah satu perguruantinggi pertama yang menjadi
salah satu tempat pengenalan komputer diIndonesia. Dari sinilah teknologi
komputer mulai disebarluaskan di Indonesia.Semua komunitas akademis perguruan
tinggi dan industri Indonesia pernahmendapatkan pengenalan teknologi komputer
dari UI.Untuk lebih jelas sejarah perkembangan teknologi informasi diIndonesia
setelah tahun 1972, bisa terlihat sebagai berikut ini:
- 1972 s/d 1975 : PUSILKOM UI mulai melakukan kegiatan operasionalkomputasi di lingkungan kampus UI. UI mengirimkan 2 (dua) orang staf PUSILKOM ke-Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
- 1975 s/d 1986 UI kembali mengirimkan 4 (empat) orang staf PUSILKOM ke-Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang ilmu komputer.
- 1984 : Beberapa jaringan teknologi informasi di Indonesia mulai terhubung ke internet melalui jaringan UI-net. Jaringan internet Indonesia pada saat itu berjalan di atas protokol UUC, sedangkan umumnya menggunakan TCP/IP. Domain .id sudah muncul dan diakui pada tahun ini.
- 1986-an : Terbentuknya jaringan yang menghubungkan kampus-kampus besar Indonesia, mulai UI, ITB, UGM, ITS,UNHAS, Universitas Terbuka dan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdikbud. Jaringan besar ini disebut UNINET. Jaringan yang dibuat dengan bantuan dari luarnegeri ini menggunakan infrastruktur jaringan teleponkabel konvensional, SKDP milik PT Indosat, serta SKDPvia satelit (packsatnet). Ada 4 buah server yang dibuat dan ditempatkan di lokasi ITB, UI, UGM, dan ITS.
- UI membuka program studi ilmu komputer pertama untuk jenjang S-1. Adanya kegiatan Amatir Radio club (ARC) ITB yang membangun jaringan internet dengan menggunakan komputer Apple II dihubungkan dengan jaringan komunikasi memakai link radio amatir untuk mengoperasikan internet.
- 1988 Program studi ilmu komputer untuk jenjang S-2 dibuka di UI.
- 1988 s/d 1989 : UI dipilih menjadi gateway internet pertama di Indonesia, sekaligus sebagai koordinator pendaftaran domain .id internet protokol berbasis UUC.
- 1990-an : Mulai dikembangkannya jaringan komputer dengan menggunakan teknologi packet radio pada band 70 cm dan 2 m secara luas.
- 1986 s/d 1993 : PUSILKOM UI ditunjuk oleh Depdikbud sebagai salah satu Pusat Antar Universitas (PAU) dalam bidang ilmu komputer.
- 1993 : Fakultas Ilmu Komputer (FASILKOM) UI diresmikan oleh Mendikbud. Indonesia secara resmi terhubung dengan internet mengguankan protocol TCP/IP dan domain .id mulai diakui keberadaanya di internet tepatnya pada tanggal 4 Maret 1993. IPTEKNET menjadi situs pertama yang resmi terhubung dengan internet.
- 1994 : Munculnya Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia yaitu indonet (www.indo.net.id)
- 1995 : PT Telkom melalui divisi riset dan teknologi memberikansambunganleased line 14,4 Kbps sebagai bagian dari IPTEKNET. Departemen Pekerjaan Umum tercatat sebagai instansidepartemen pemerintah Indonesia yang pertama kali on
- 1996 : ITB terhubung ke jaringan penelitian Asia Internet Interconnection Initiatives (AI3). Bandwidth internet pundi tambah sampai 1,5 Mbps ke Jepang yang terusditambah dengan sambungan ke TelkomNet dan IIX 2Mbps. Terbentuknya APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa InternetIndonesia) yang memfasilitasi munculnya banyak ISP. Munculnya layanan internet dial up dengan akses 33,6Kbps.
- 1997 : Layanan internet dial up mengalami kenaikan dari 33,6 Kbps menjadi rata-rata 56 Kbps.
- 1998 : Pemerintah daerah mulai masuk ke internet. Pemda pertama yang melakukan koneksi ke internet adalah Pemerintah Daerah Samarinda (www.samarinda.go.id).
- 1999 : Dikeluarkannya UU tentang telekomunikasi no. 36/1999. Inisiatif gerakan berbasis teknologi informasi mulaimencapai puncaknya. Perusahaan dotcom dan media-media yang memilikisegmen pendidikan teknologi informasi bermunculan diIndonesia. Kegiatan promosi, pameran, seminar, dan konferensi internasional teknologi informasi diselenggarakan secara beruntun.
- 2002 : Secara resmi pemerintah Indonesia meluncurkan portal nasional pada tanggal 20 Mei 2002 dengan alamat (www.indonesia.go.id).
2.6 Jenis
Aplikasi Teknologi Informasi
Aplikasi
teknologi informasi sangat terkait dengan aplikasi teknologi komputer dan
komunikasi data dalam kehidupan. Hampir semua bidang kehidupan saat ini dapat
memanfatkan teknologi komputer. Beberapa jenisaplikasi tersebut adalah :
- Aplikasi di bidang sains
Contohnya
adalah aplikasi astronomi (perbintangan).
- Aplikasi di bidang teknik/rekayasa
Contohnya
adalah pembuatan robot dengan menggunakan konsepkecerdasan buatan agar robot
lebih bijak.
- Aplikasi di bidang bisnis/ekonomi
Contohnya
adalah e-business, e-marketing, e-commerce dan lain-lain.
- Aplikasi di bidang administrasi umum. Contohnya adalah aplikasi penjualan/distribusi barang, aplikasipenggajian karyawan, aplikasi akademik sekolah dan lain-lain.
- Aplikasi di bidang perbankan
Contohnya
adalah e-banking, ATM, dan m-banking.
- Aplikasi di bidang pendidikan
Contohnya
adalah e-learning (distance learning).
- Aplikasi di bidang pemerintahan
Contohnya
adalah e-government dan aplikasi inventarisasi kekayaanmilik negara (IKMN).
- Aplikasi di bidang kesehatan/kedokteran
Contohnya
adalah pemeriksaan ekokardiografi yaitu suatu pemeriksaannon invasif untuk
menegakkan diagnose penyakit jantung. Dengan menggunakan alat ini aktivitas
otot-otot jantung bisa dilihat langsungdilayar monitor dan lainnya.
- Aplikasi di bidang industri/manufaktur
Contohnya
adalah simulasi komputer untuk ujicoba atas rancangansistem baru.
- Aplikasi di bidang transportasi
Contohnya
adalah aplikasi untuk mengatur jadwal penerbangan pesawatterbang.
- Aplikasi di bidang pertahanan keamanan
Contohnya
adalah aplikasi sistem keamanan data dengan enkripsi
2.7
Perkembangan Hukum mengenai Teknologi Informasi dan
Komunikasi di Indonesia
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 mengatur mengenai hak atas informasi bagi warga negara Indonesia yaitu:
Pasal 28 C (1)
Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui
pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat
dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan
kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia
Pasal 28 F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh
informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak
untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Penyebaran informasi melintasi batas-batas wilayah
nasional bukanlah fenomena baru, tetapi dengan kemajuan dan perkembangan
komunikasi multimedia, ruang lingkup dan kecepatan komunikasi lintas batas
meningkat yang juga meningkatkan permasalahan hukum terkait dengan yurisdiksi,
penegakan, dan pemilihan hukum di mana cyberspace adalah suatu dimensi
yang multi-yurisdiksi dan permasalah yang ditimbulkan oleh dimensi cyberspace
menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan dimensi fisik. Secara umum,
terdapat 4 (empat) kategorisasi pembatasan akses atas informasi yang terdapat
di cyberspace oleh Pemerintahan suatu negara, yaitu:
1.
Kebijakan
Pemerintah yang menganjurkan kepada Industri Teknologi Informasi di wilayahnya
untuk melakukan pembatasan secara sukarela;
2.
Kebijakan
Pemerintah yang menjatuhkan hukuman pidana bagi penyedia konten yang membuat
konten yang tidak diizinkan dapat diakses melalui internet;
3.
Perintah
resmi untuk membatasi akses atas internet; dan
4.
Larangan
resmi dari Pemerintah atas akses publik dari internet.
Teknologi
telah mengubah pola kehidupan manusia di berbagai bidang, sehingga secara
langsung telah mempengaruhi munculnya perbuatan hukum baru di masyarakat.
Bentuk-bentuk perbuatan hukum itu perlu mendapatkan penyesuaian, seperti
melakukan harmonisasi terhadap beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah
ada, mengganti jika tidak sesuai lagi, dan membentuk ketentuan hukum yang baru.56 Pembentukan
peraturan perundang-undangan di era teknologi informasi ini harus dilihat dari
berbagai aspek, misalnya dalam hal pengembangan dan pemanfaatan rule of law dan
internet, yurisdiksi dan konflik hukum, pengakuan hukum terhadap dokumen serta
tanda tangan elektronik, perlindungan privasi konsumen, cybercrime,
pengaturan konten, dan cara-cara penyelesaian sengketa domain.
Internet
telah menjadi sebuah model infrastruktur informasi global (global
information infrastructure/GII) yang madani. Perwujudan dari optimisasi
model infratruktur informasi global ini bergantung kepada perlindungan hukum
yang didasarkan kepada keberadaan hukum konvensional dan lembaga peradilan
untuk menyelesaikan permasalahan yang berpotensi timbul di dalamnya.
Cyberspace merupakan suatu
ruang yang tidak dapat dilokalisasi sehubungan dengan sifatnya yang
internasional. Tidak adanya suatu kesesuaian antara sifat global dari cyberspace,
karakter transnasional, dan batasan geografis nasional dari peradilan menjadi
tantangan utama dari pengaturan hukum dalam cyberspace.59 Konsep Hukum
Internet merupakan hal yang relatif baru, bahkan di Amerika Serikat sendiri
sebagai negara yang pertama memperkenalkan internet, konsep hukum internet baru
diperkenalkan dalam beberapa tahun di akhir dekade 1980.
Media
internet adalah media yang tidak mengenal batas, baik batas-batas wilayah
maupun batas-batas kenegaraan. Hal ini membawa dampak bagi perilaku para
pengguna internet. Peraturan yang berlaku di suatu negara seringkali berbeda
dengan negara lain, sehingga apa yang boleh dilakukan dengan bebas di suatu
negara dapat dianggap sebagai pelanggaran hukum di negara lain, demikian pula
sebaliknya. Tantangan terbesar dalam pembuatan peraturan perundang-undangan
untuk mengatur internet adalah cepatnya perkembangan dari internet itu sendiri.
Internet berkembang sangat cepat sebagai sebuah teknologi dan media, baik dari
segi konten, bandwidth, jumlah pengguna, dan sebagainya. Perkembangan
ini terus berlangsung secara berkelanjutan, dan bahkan semakin cepat.62 Internet
merupakan suatu fenomena global, sehingga untuk dapat diaplikasikan peraturan
perundang-undangan harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang dapat diterima
secara internasional. Terdapat 3 (tiga) sasaran utama kebijakan pemerintah
di bidang telematika, yaitu:
a. tercapainya pertumbuhan ekonomi dan daya saing (economic
growth and competitiveness) ;
b. tercapainya peningkatan kualitas hidup (quality
of life) masyarakat; dan
c. tercapainya stabilitas pertahanan dan ketahanan
nasional.
Lingkup pengkajian
dari hukum teknologi akan terfokus kepada setiap aspek hukum yang terkait
dengan keberadaan sistem informasi dan sistem komunikasi itu sendiri, khususnya
yang dilakukan dengan penyelenggaraan sistem elektronik, dengan tetap
memperhatikan esensi dari:
a. keberadaan komponen-komponen dalam sistem
tersebut, yaitu mencakup: (i) perangkat keras, (ii) perangkat lunak, (iii)
prosedur-prosedur, (iv) perangkat manusia, dan (v) informasi itu sendiri; dan
b. keberadaan fungsi-fungsi teknologi di
dalamnya, yaitu: (i) input, (ii) proses, (iii) output, (iv)
penyimpanan, dan (v) komunikasi.
Subjek hukum
yang terkait dalam lingkup cyberspace dapat dibedakan menjadi: (i) pihak
penjual, produsen, pengembang (developer), atau penyedia jasa; dan (ii)
pihak pengguna akhir (end-user) ataupun konsumen (consumer).
Peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai cyberspace dapat
diterapkan secara optimal apabila memenuhi karakteristik virtual, yang di
antaranya adalah:
a. Internet
memiliki karakter global dan tidak mengenal batas negara;
b. Setiap
pengguna internet dapat melakukan komunikasi secara interaktif, non-interaktif,
bahkan dapat melakukan kegiatan penyiaran dengan biaya yang relatif rendah;
c. Tidak ada
satupun yang dapat mengklaim dirinya sebagai pemilik internet yang merupakan
gabungan dari baratus-ratus ribu jaringan;
d. Pertumbuhan
yang luar biasa dari pengguna internet dan perkembangan yang cepat pada
teknologi internet itu sendiri; dan
e. Internet
tidak berada dalam lingkup pengaturan suatu pemerintahan negara atau organisasi
tertentu sehingga dibutuhkan kerjasama internasional dalam upaya mengatasi
permasalahan-permasalahan hukum yang muncul.
Kecanggihan teknologi sistem telekomunikasi digital
mengakibatkan proses-proses pada sistem informasi dapat dilakukan pada lokasi
yang terpisah, sehingga berkembanglah suatu bentuk administrasi perkantoran
yang baru (office automation system) yang alur informasinya mampu
mengalir dalam jaringan global. Beberapa permasalahan hukum yang menyangkut
arus globalisasi informasi (emerging global issues) di antaranya, yaitu:
privacy, criminal action, contract and tort liability, proprietary rights in
information, ownership of and access to information, emerging legal rights to
communicate, dan konsep teritorialitas.
Istilah cyberlaw
sebagai hukum yang mengatur aktivitas dalam cyberspace bukan
merupakan istilah yang baku, istilah lain yang juga dikenal yaitu law of the
internet, law of information technology, telecommunication law, dan lex
informatica.69 Cyberlaw telah membentuk rezim hukum baru di
Indonesia, khususnya dalam kegiatan teknologi dan informasi. Rezim hukum cyberlaw
di Indonesia ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Cyberlaw merupakan suatu
rezim hukum baru yang akan lebih mudah dipahami dengan mengetahui ruang lingkup
pengaturannya, yaitu antara lain mencakup:
a. Hak Cipta
(Copyright);
b. Merk (Trademark);
c. Fitnah
atau pencemaran nama baik (Defamation);
d. Privacy;
e. Duty of
Care;
f. Criminal
Liability;
g.
Procedural Issues;
h.
Electronic Contract & Digital Signatures;
i.
Electronic Commerce;
j.
Pornografi; dan
k.
Pencurian.
Republik
Indonesia mengundangkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE), terdiri atas 13 bab dan 54 pasal yang mengatur
berbagai aspek penting sebagai berikut:
a. Aspek Yurisdiksi
UU ITE menggunakan prinsip perluasan Yurisdiksi (Extra
Territorial Jurisdiction) dengan pertimbangan bahwa transaksi elektronik
memiliki karakteristik lintas territorial dan tidak dapat menggunakan
pendekatan hukum konvensional;
b. Aspek Pembuktian Elektronik
Alat bukti
elektronik merupakan alat bukti dan memiliki akibat hukum yang sah di muka
pengadilan;
c. Aspek Informasi dan Perlindungan Konsumen
Pelaku usaha
yang menawarkan produk dalam cyberspace harus menyediakan informasi yang
lengkap dan benar, berkaitan dengan syarat-syarat kontrak, produsen, dan produk
yang ditawarkan;
d. Aspek Tanda Tangan Elektronik
Tanda tangan
elektronik memiliki kekuatan yang sama dengan tanda tangan konvensional selama
memenuhi persyaratan yang ditentukan di dalam UU ITE;
e. Aspek Pengamanan Tanda Tangan Elektronik
Setiap tanda
tangan elektronik harus dilengkapi dengan pengamanan;
f. Aspek Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Suatu laman
dalam cyberspace yang memerlukan perlindungan lebih harus dilengkapi
dengan sertifikat elektronik yang disediakan oleh penyelenggara sertifikasi
elektronik (Thawte, VeriSign, dan sebagainya);
g. Aspek Transaksi Elektronik
Kegiatan
transaksi elektronik dilindungi oleh hukum termasuk pembuatan kontrak
elektronik dalam lingkup publik maupun privat;
h. Aspek Nama Domain
Kepemilikan
nama domain didasarkan atas prinsip first come first served dengan
memperhatikan aspek Hak atas Kekayaan Intelektual sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
i. Aspek Perlindungan Privasi
Penggunaan
setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi harus
dilakukan dengan persetujuan dari orang yang bersangkutan, kecuali ditentukan
lain oleh peraturan perundang-undangan;
j. Aspek Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah
memfasilitasi pemanfaatan informasi dan transaksi elektronik dengan
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
k. Aspek Perlindungan Kepentingan Umum
Pemerintah berwenang melindungi kepentingan umum dari
segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan informasi dan transaksi
elektronik yang mengganggu ketertiban umum dan kepentingan nasional serta
Pemerintah menetapkan bahwa instansi tertentu harus memiliki back-up e-data.
l. Aspek
Perbuatan yang Dilarang
Beberapa
perbuatan dilarang untuk dilakukan dalam cyberspace berdasarkan UU ITE,
yaitu:
1. Menyebarkan informasi elektronik yang bermuatan
pornografi, perjudian, tindak kekerasan, penipuan;
2. Menggunakan dan/atau mengakses komputer dan/atau
sistem elektronik dengan cara apapun tanpa hak, dengan maksud untuk memperoleh,
mengubah, merusak, atau menghilangkan informasi dalam komputer atau sistem
elektronik;
3. Menggunakan dan/atau mengakses komputer dan/atau
sistem elektronik dengan cara apapun tanpa hak, dengan maksud untuk memperoleh,
mengubah, merusak, atau menghilangkan informasi dalam komputer atau sistem
elektronik milik Pemerintah yang karena statusnya harus dirahasiakan atau
dilindungi;
4. Menggunakan dan/atau mengakses
komputer dan/atau sistem elektronik dengan cara apapun tanpa hak, dengan maksud
untuk memperoleh, mengubah, merusak, atau menghilangkan informasi
dalam komputer atau sistem elektronik menyangkut pertahanan nasional atau
hubungan internasional yang dapat menyebabkan gangguan atau bahaya terhadap
Negara dan/atau hubungan dengan subjek hukum internasional;
5. Melakukan tindakan yang secara tanpa hak yang
menyebabkan transmisi dari program, informasi, kode, atau perintah, komputer
dan/atau sistem elektronik yang dilindungi Negara menjadi rusak; dan
6. Menggunakan dan/atau mengakses komputer dan/atau
sistem elektronik secara tanpa hak atau melampaui wewenangnya, baik dari dalam
maupun luar negeri untuk memperoleh informasi dari komputer dan/atau sistem
elektronik yang dilindungi oleh Negara.
UU ITE
mengatur mengenai beberapa asas pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik, yaitu
a.
Asas
Kepastian Hukum, yang berarti landasan hukum bagi pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Transaksi Elektronik serta segala sesuatu yang mendukung penyelenggaraannya
yang mendapatkan pengaturan hukum di dalam dan di luar pengadilan;
b. Asas Manfaat,
yang berarti asas bagi pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Transaksi Elektronik diupayakan untuk mendukung proses berinformasi
sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
c.
Asas
Kehati-hatian, yang berarti landasan bagi pihak yang bersangkutan untuk
memperhatikan segenap aspek yang berpotensi mendatangkan kerugian, baik bagi
dirinya sendiri maupun bagi pihak lain dalam pemanfaatan Teknologi Informasi
dan Transaksi Elektronik;
d. Asas Iktikad
Baik, sebagai asas yang digunakan para pihak dalam melakukan Transaksi
Elektronik, sehingga tidak secara sengaja dan tanpa gak atau melawan hukum
mengakibatkan kerugian bagi pihak lain tanpa sepengetahuannya;
e.
Asas
Kebebasan Memilih Teknologi atau Netral Teknologi berarti asas pemanfaatan
teknologi Informasi dan Transasksi Elektronik tidak terfokus pada peggunaan
teknologi tertentu sehingga dapat mengikuti perkembangan pada masa yang akan
datang.
Aktivitas
internet yang sepenuhnya beroperasi secara virtual, sesungguhnya tetap
melibatkan masyarakat (manusia) yang hidup di dunia nyata (real/physical
world). Sebagaimana halnya di dunia nyata, aktivitas dan perilaku manusia
dalam cyberspace tidak dapat dilepaskan dari pengaturan dan pembatasan
oleh hukum. Pengaturan dan pembatasan oleh hukum ditetapkan karena setiap orang
mempunyai kewajiban terhadap masyarakatnya dan dalam pelaksanaan hak-hak dan
kekuasaan-kekuasaannya setiap orang hanya dapat dibatasi oleh hukum yang
semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak atas hak-hak
dan kebebasan-kebebasan orang lain. Pelaksanaan hak-hak baik di dunia nyata (real/physical
world) maupun dalam aktivitas pemanfaatan teknologi informasi dalam cyberspace
berisiko mengganggu ketertiban dan keadilan dalam masyarakat apabila tidak
terdapat harmoni antara hukum dan teknologi informasi, yaitu tidak adanya
pengaturan dan pembatasan oleh hukum yang melindungi hak-hak masyarakat.
2.8 Etika
Teknologi Informasi di Indonesia
Sebagai
negara yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi komputer,
Indonesia pun tidak mau ketinggalan dalam mengembangkan etika di bidang
tersebut. Mengadopsi pemikir dunia di atas, etika di bidang komputer berkembang
menjadi kurikulum wajib yang dilakukan hampir semua perguruan tinggi di bidang
komputer di Indonesia.
Perkembangan
teknologi yang terjadi dalam kehidupan manusia, seperti revolusi yang
memberikan banyak perubahan pada cara berpikir manusia, baik dalam usaha
pemecahan masalah, perencanaan, maupun dalam pengambilan keputusan.
Perubahan
yang terjadi pada cara berpikir manusia akan berpengaruh terhadap
pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika dan norma-norma dalam
kehidupannya. Orang yang biasanya berinteraksi secara fisik, melakukan
komunikasi secara langsung dengan orang lain, karena perkembangan teknologi
internet dan email maka interaksi tersebut menjadi berkurang.
Teknologi
sebenarnya hanya alat yang digunakan manusia untuk menjawab tantangan hidup.
Jadi, faktor manusia dalam teknologi sangat penting. Ketika manusia membiarkan
dirinya dikuasai teknologi maka manusia yang lain akan mengalahkannya. Oleh
karena itu, pendidikan manusiawi termasuk pelaksanaan norma dan etika
kemanusiaan tetap harus berada pada peringkat teratas, serta tidak hanya
melakukan pemujaan terhadap teknologi belaka.
Ada beberapa
dampak pemanfaatan teknologi informasi yang tidak tepat yaitu :
- Ketakutan terhadap teknologi informasi yang akan menggantikan fungsi manusia sebagai pekerja
- Tingkat kompleksitas serata kecepatan yang sudah tidak dapat di tangani secara manual
- Pengangguran dan pemindahan kerja
- Kurangnya tanggung jawab profesi
- Adanya golongan minoritas yang miskin informasi mengenai teknologi informasi
Untuk
mengatasi beberapa kendala tersebut maka dapat dilakukan :
- Rancangan sebuah teknologi yang berpusat pada manusia.
- Adanya dukungan dari suatu organisasi, kompleksitas dapat ditangani dengan Teknologi Informasi.
- Adanya pendidikan yang mengenalkan teknologi informasi sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kemajuan teknologi informasi. Jika adanya peningkatan pendidikan maka akan adanya umpan balik dan imbalan yang diberikan oleh suatu organisasi.
Perkembangan
teknologi akan semakin meningkat namun hal ini harus di sesuaikan dengan
hukum yang berlaku sehingga etika dalam berprofesi di bidang teknologi
informasi dapat berjalan dengan baik.
2.9
Etika Pemanfaatan Teknologi Informasi
Menurut
James H. Moor ada tiga alasan utama mengapa masyarakat
berminat untuk menggunakan komputer yaitu;
- Kelenturan logika (logical malleability),
Memiliki
kemampuan untuk membuat suatu aplikasi untuk melakukan apapun yang diinginkan
oleh programmer untuk penggunannya.
- Faktor Transformasi (transformation factors)
Memiliki
kemampuan untuk bergerak dengan cepat kemanapun pengguna akan menuju ke suatu
tempat.
- Faktor tak kasat mata (invisibility factors).
Memiliki
kemampuan untuk menyembunyikan semua operasi internal computer sehingga
tidak ada peluang bagi penyusup untuk menyalahgunakan operasi tersebut.
2.10 Kebijakan Nasional dibidang Tenologi Informasi
dan
Komunikasi
Menyadari
pentingnya TIK sebagai bidang yang berperan besar dalam pembangunan nasional,
Kementerian Negara Riset dan Teknologi memberikan arahan sektor-sektor yang
diprioritaskan untuk dikembangkan melalui kegiatan riset, antara lain:
infrastruktur informasi, perangkat lunak, kandungan informasi (information
content), pengembangan SDM dan kelembagaan, pengembangan regulasi dan
standarisasi (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 5).
1.
Infrastruktur
Informasi
Infrastruktur
informasi terdiri atas beberapa aspek yang seluruhnya harus dibangun secara
paralel dan saling menunjang. Aspek pertama adalah jaringan fisikyang berfungsi
sebagai jalan raya informasi baik pada tingkat jaringan tulang-punggung maupun
tingkat akses pelanggan. Jaringan tulang punggung harus mampu menghubungkan
seluruh daerah Indonesia sampai wilayah pemerintahan terkecil. Pada tingkat
akses pelanggan harus memungkinkan tersedianya akses yang murah dan memadai
bagi masyarakat luas.
Aspek kedua menekankan
pada kemanfaatan sebesar-besarnya pengelolaan sumber informasi bagi seluruh
komponen masyarakat. Kondisi ini dapat dicapai melalui diwujudkannya
interoperabilitas sumber daya informasi yang tersebar luas sehingga dapat
dimanfaatkan secara efisien dan efektif oleh seluruh pemangku kepentingan.
Aspek
terakhir adalah pengembangan perangkat keras, baik di sisi jaringan maupun di
sisi terminal. Pengembangan ini harus dirancang berdasarkan kebutuhan dan
kondisi jaringan yang ada di Indonesia, dengan mengadopsi sistem terbuka dan
menanamkan tingkat kecerdasan tertentu untuk memudahkan integrasi sistem dan
pengembangannya di masa depan.
2.
Perangkat
Lunak
Pengembangan
perangkat lunak diarahkan pada realisasi sistem aplikasi yang mampu menunjang
proses transaksi ekonomi yang cepat dan aman, serta pengambilan keputusan yang
benar dan cepat. Harga yang terjangkau dan daya saing pada tingkat
internasional merupakan salah satu kriteria yang dipersyaratkan, khususnya
mendukung kebijakan substitusi impor.
Perangkat
lunak sistem operasi dengan kehandalan tinggi dan kebutuhan sumber daya memori
maupun prosesor yang minimal serta fleksibel terhadap perangkat keras maupun
program aplikasi yang baru, merupakan prioritas yang harus dikembangkan.
Program aplikasi juga perlu dikembangkan, terutama yang terkait dengan sektor
perekonomian, industri, pendidikan, maupun pemerintahan.
Dalam
mempercepat pengembangan dan pendayagunaan perangkat lunak, perlu pula ditinjau
implementasi konsep open source. Penerapan konsep open source ini
diharapkan mampu menggalakkan industri perangkat lunak dengan partisipasi
seluruh lapisan masyarakat tanpa melakukan pelanggaran hak cipta.
3.
Kandungan
Informasi
Kegiatan
pengembangan kandungan informasi (information content) bertujuan
melakukan penataan, penyimpanan, dan pengolahan informasi yang diperlukan untuk
meningkatkan efisiensi proses pembangunan, pengorganisasian, pencarian,
dan pendistribusian informasi.
Kegiatan
riset dan pengembangan kandungan informasi diawali dengan pemetaan berbagai
potensi dan informasi nasional beserta pemodelan proses information
retrieval. Dengan demikian implementasi information
repository dan information sharing merupakan salah satu faktor
penentu keberhasilan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Pemanfaatan maksimal kandungan informasi yang tersebar di seluruh wilayah
Indonesia dengan potensi lokal, akumulasi kekayaan seni dan budaya Indonesia
yang beraneka ragam dapat pula dieksploitasi sebesar-besarnya untuk
menghasilkan produk-produk seni budaya yang berbasis multimedia.
4.
Pengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM)
Dalam
pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) diperlukan upaya peningkatan kemandirian
dan keunggulan, yang salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem pendidikan
dan pelatihan untuk membentuk keahlian dan keterampilan masyarakat dan peneliti
dalam bidang teknologi yang strategis serta mengantisipasi timbulnya
kesenjangan keahlian sebagai akibat kemajuan teknologi, khususnya teknologi
informasi dan komunikasi.
5.
Pengembangan
Regulasi dan Standarisasi
Program
kajian regulasi meliputi penyusunan Undang-Undang dan penyempurnaan berbagai
kebijakan terkait bidang teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting.
Salah satunya adalah penyempurnaan Cetak Biru Telekomunikasi dan UU
Telekomunikasi No. 36/1999 yang sudah Telekomunikasi No. 36/1999 yang sudah
mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat.
Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan
berbagai UU lain yang dapat mendorong pertumbuhan aplikasi IT sangatlah
diharapkan realisasinya pada tahun 2005-2025. Termasuk dalam kerangka regulasi
ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya
dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan perbaikan
kondisi layanan, kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga yang ekonomis.
Bab 3
Penutup
3.1
Kesimpulan
1. Kata
TELEMATIKA, berasal dari istilah dalam bahasa Perancis “TELEMATIQUE”
yang merujuk padabertemunya sistem jaringan komunikasi dengan
teknologi informasi. Istilah Teknologi Informasi itu sendiri merujuk pada
perkembangan teknologi perangkat-perangkat pengolah informasi. TELEMATIKA
dipahami sebagai akronim Telekomunikasi, Multimedia dan Informatika.
2. Lingkup pengkajian Hukum Telematika dapat terbagi dua komponen.
Komponen yang pertama berkaitan dengan komponen yang terkait dengan sistem,
misalnya perangkat keras, perangkat lunak, prosedur, manusia dan informasi.
Komponen yang kedua adalah berkaitan dengan fungsi-fungsi telekomunikasi.
3.
Terdapat 3
(tiga) sasaran utama kebijakan pemerintah di bidang telematika, yaitu:
a. tercapainya pertumbuhan ekonomi dan
daya saing (economic growth and competitiveness) ;
b. tercapainya peningkatan kualitas
hidup (quality of life) masyarakat; dan
c. tercapainya stabilitas pertahanan
dan ketahanan nasional.
Lingkup pengkajian dari hukum teknologi akan terfokus
kepada setiap aspek hukum yang terkait dengan keberadaan sistem informasi dan
sistem komunikasi itu sendiri, khususnya yang dilakukan dengan penyelenggaraan
sistem elektronik, dengan tetap memperhatikan esensi dari:65
a. keberadaan komponen-komponen dalam
sistem tersebut, yaitu mencakup: (i) perangkat keras, (ii) perangkat lunak,
(iii) prosedur-prosedur, (iv) perangkat manusia, dan (v) informasi itu sendiri;
dan
b. keberadaan
fungsi-fungsi teknologi di dalamnya, yaitu: (i) input, (ii) proses,
(iii) output, (iv) penyimpanan, dan (v) komunikasi.
3.2 Saran
Dalam makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan baik dari segi
penulisan maupun dari isi makalah yang dipaparkan. Oleh karena itu, dibutuhkan
masukan dan saran yang kiranya dapat menyempurnakan dan memperbaiki kekurangan
dan kelemahan tersebut.
Arsitektur
Arsitektur system harus berdasarkan konfigurasi
sistem secara keseluruhan yang akan menjadi tempat dari DBMS, basis data dan
aplikasi yang memanfaatkannya yang juga akan menentukan bagaimana pemakai dapat
berinteraksi dengannya. Seiring dengan kemajuan teknologi, aristektur tersebut
semakin beraneka ragam atau semakin banyak jenisnya dan berubah pula
keunggulannya. Yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan
arsitektur sistem, yang paling cocok tentu saja bukan hanya keunggulan
teknologinya saja, kita harus mempertimbangkan pula faktor biaya dan yang
sesuai dengan kebutuhan nyata ditempat dimana sistem akan digunakan.Arsitektur
telematika menurut kami adalah sebuah aplikasi yang secara logic berada
diantara lapisan aplikasi (application layer dan lapisan data dari sebuah
arsitektur layer – layer TCP/IP.
Tiga elemen utama sebuah arsitektur, masing-masing sering dianggap sebagai
arsitektur, adalah:1. Arsitektur sistem pemrosesan, menentukan standar teknis untuk hardware, lingkungan sistem operasi, dan software aplikasi, yang diperlukan untuk menangani persyaratan pemrosesan informasi perusahaan dalam spektrum yang lengkap. Standar merupakan format, prosedur, dan antar muka, yang menjamin bahwa perlengkapan dan software dari sekumpulan penyalur akan bekerja sama.
2. Arsitektur telekomunikasi dan jaringan, menentukan kaitan di antara fasilitas komunikasi perusahaan, yang melaluinya informasi bergerak dalam organisasi dan ke peserta dari organisasi lain, dan hal ini juga tergantung dari standar yang berlaku.
3. Arsitektur data, sejauh ini merupakan yang paling rumit diantara ketiga arsitektur di atas, dan termasuk yang relatif sulit dalam implementasinya, menentukan organisasi data untuk tujuan referensi silang dan penyesuaian ulang, serta untuk penciptaan sumber informasi yang dapat diakses oleh aplikasi bisnis dalam lingkup luas.
Beberapa macam model arsitektur :
Arsitektur Mainframe
Pada arsitektur ini, terdapat sebuah komputer pusat (host) yang memiliki sumber daya yang sangat besar, baik memori, processor maupun media penyimpanan. Mainframe menyediakan sedikit waktu dan sebagian memorinya untuk setiap pemakai (user), kemudian berpindah lagi kepada pemakain lain, lalu kembali kepemakai yang pertama. Perpindahan ini tidak dirasakan oleh pemakai, seolah-olah tidak ada apa-apa. Jenis komputer ini memiliki suatu Central Processing Unit, Storage Device yang agak besar (kira-kira sebesar 2 lemari pakaian) dan ditempatkan pada tempat tersendiri. Peralatan CPU dan Storage tersebut dihubungkan dengan banyak terminal yang terdiri dari keyboard dan monitor saja. Melalui komputer terminal, pengguna mengakses sumber daya tersebut. Komputer terminal hanya memiliki monitor/keyboard dan tidak memiliki CPU. Semua sumber daya yang diperlukan terminal dilayani oleh komputer host. Model ini berkembang pada akhir tahun 1980-an.
Arsitektur File Sharing
Pada arsitektur ini komputer server menyediakan file-file yang tersimpan di media penyimpanan server yang dapat diakses oleh pengguna. Arsitektur file sharing memiliki keterbatasan, terutama jika jumlah pengakses semakin banyak serta ukuran file yang di shaing sangat besar. Hal ini dapat mengakibatkan transfer data menjadi lambat. Model ini populer pada tahun 1990-an.
Arsitektur Client/Server
Karena keterbatasan sistem file sharing, dikembangkanlah arsitektur client/server. Dengan arsitektur ini, query data ke server dapat terlayani dengan lebih cepat karena yang ditransfer bukanlah file, tetapi hanyalah hasil dari query tersebut. RPC (Remote Procedure Calls) memegang peranan penting pada arsitektur client/server. Client server dapat dibedakan menjadi dua, yaitu model Two-tier dan Three-tier.
Model Two-tier
Model Two-tier terdiri dari tiga komponen yang disusun menjadi dua lapisan : client (yang meminta serice) dan server (yang menyediakan service). Tiga komponen tersebut yaitu :
User Interface adalah antar muka program aplikasi yang berhadapan dan digunakan langsung oleh user.§
Manajemen Proses.§
Database.§
Model ini memisahkan peranan user interface dan database dengan jelas, sehingga terbentuk dua lapisan. Tingkat pertama dari model two-tier adalah client tier atau presentation layer yang dijalankan pada client. Tingkat ini mengandung kode yang menampilkan data dan berinteraksi dengan user. Aplikasi client meminta data dari database dan menampilkannya pada salah satu atau lebih form tampilan. Setelah data berada pada komputer client aplikasi, kita bisa memprosesnya dan menampilkannya dengan berbagai cara. Komputer client mampu memanipulasi data secara lokal dan server tidak dilibatkan didalam proses ini. Jika user mengedit sebuah field aplikasi, user juga bisa meng- update database.
Tingkat kedua adalah database server atau DBMS tingkatan ini memanipulasi objek yang sangat komplek yaitu database. DBMS banyak menerima permintaan semacam yang sangat sulit dari client dan server harus bisa melayani semua permintaan client tersebut. Tugas dari server adalah mengambil data yang dibutuhkan dan mengirimkannya kepada client.
ModelThree-tier
Pada model ini disisipkan satu layer tambahan diantara user interface tier dan database tier. Tier tersebut dinamakan middle-tier. Middle-Tier terdiri dari bussiness logic dan rules yang menjembatani query user dan database, sehingga program aplikasi tidak bisa mengquery langsung ke database server, tetapi harus memanggil prosedur-prosedur yang telah dibuat dan disimpan pada middle-tier. Dengan adanya server middle-tier ini, beban database server berkurang. Jika query semakin banyak dan/atau jumlah pengguna bertambah, maka server-server ini dapat ditambah, tanpa merubah struktur yang sudah ada. Ada berbagai macam software yang dapat digunakan sebagai server middle-tier.
Contohnya MTS (Microsoft Transaction Server) dan MIDAS.Model dua tingkat adalah arsitektur yang sangat efisien untuk aplikai datasbase, biasanya aplikasi dua tingkat ini dijalankan pada LAN yang kecil. Bentuk yang paling lengkap dari aplikasi database adalah three-tier .
Tingkat ini adalah sebuah objek yang ada diantara aplikasi client-server. Yang merupakan suatu class atau banyak class yang memiliki beberapa method dan mengurung client dari server. Aplikasi client bisa memanggil method objek yang berada pada middle-tier dan mendapatkan hasilnya. Keuntungan dari middle-tier adalah lapisan mengisolasi client dari server. Client tidak lagi mengakses database tetapi mengambil method yang dimiliki oleh objek-objek pada middle-tier.
Aplikasi yang terstruktur dengan baik mengimplementasikan operasi-operasi di dalam middle-tier. Selain itu client tidak perlu tahu bagaimanana setiap pelanggan disimpan dalam database. Jika dia bisa memanggil method addCustomer() dan mengirimkan nilai-nilai pada field (nama pelanggan, alamat dsb) sebagai argumennya, middle-tier akan menyisipkan informasi baru kedalam database dan mengembalikan nilai true jika semua berjalan lancar atau pesan error jika terjadi kesalahan.
Arsitektur klien – Server Telematika
Arsitektur klien-server telematika terdiri dari 2 buah arsitektur yakni, arsitektur sisi client dan sisi servernya.
Asitektur Sisi klien
Istilah ini merujuk pada pelaksanaan atau penyimpanan data pada browser (atau klien) sisi koneksi HTTP. JavaScript adalah sebuah contoh dari sisi klien eksekusi, dan cookie adalah contoh dari sisi klien penyimpanan. Lihat Cookie, Server Side. Karakteristik Klien :
> Selalu memulai permintaan ke server
> Menunggu balasan
> Menerima balasan
Biasanya terhubung ke sejumlah kecil dari server pada satu waktu. Biasanya berinteraksi langsung dengan pengguna akhir dengan menggunakan antarmuka pengguna seperti antarmuka pengguna grafis. Khusus jenis klien mencakup: web browser, e-mail klien, dan online chat klien.
Arsitektur Sisi Server
Sebuah eksekusi sisi server adalah server Web khusus eksekusi yang melampaui standar metode HTTP itu harus mendukung. Sebagai contoh, penggunaan CGI script sisi server khusus tag tertanam di halaman HTML; tag ini memicu tindakan terjadi atau program untuk mengeksekusi. Karakteristik Server:
> Selalu menunggu permintaan dari salah satu klien.
> Melayani klien permintaan kemudian menjawab dengan data yang diminta ke klien.
> Sebuah server dapat berkomunikasi dengan server lain untuk melayani permintaan klien.
> Jenis server khusus mencakup: web server, FTP server, database server, E-mail server, file server, print server. Kebanyakan web layanan ini juga jenis server.
Jadi, secara umum Arsitektur Klien-server atau jaringan komputer adalah sebuah aplikasi terdistribusi arsitektur yang partisi tugas atau beban kerja antara penyedia layanan (server) dan pelayanan pemohon, disebut klien. Sering kali klien dan server beroperasi melalui jaringan komputer pada hardware terpisah. Sebuah mesin server adalah performa tinggi host yang menjalankan satu atau lebih program server yang berbagi sumber daya dengan klien. Seorang klien tidak berbagi apapun dari sumber daya, tetapi meminta server layanan konten atau fungsi.
Oleh karena itu klien memulai sesi komunikasi dengan server yang menunggu (mendengarkan) masuk permintaan. Dalam perkembangannya, client/ server dikembangkan oleh dominasi perusahaan software besar yaitu Baan, Informix, Lotus, Microsoft, Novell, Oracle, PeopleSoft, SAP, Sun, dan Sybase. Perusahaan-perusahaan ini adalah superstar pada era pertama dimunculkannya konsep client/ server. Saat ini perusahaanperusahaan ini telah menjadi perusahaan komputer yang stabil dan besar.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa kolaborasi arsitektur sisi client dan sisi server :
Arsitektur Single-Tier
Definisi satu-tier arsitektur, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini, adalah bahwa semua komponen produksi dari sistem dijalankan pada komputer yang sama. Ini adalah sederhana dan paling mahal alternatif. Ada kurang perlengkapan untuk membeli dan mempertahankan. Kelemahan dari jenis ini pelaksanaan keamanan lebih rendah dan kurangnya skalabilitas. Sebuah arsitektur skalabel ketika dapat dengan mudah diperluas atau ditambah untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kinerja.
Setelah semua komponen utama situs dan data di satu komputer di belakang firewall daun domain situs lebih rentan terhadap serangan berbahaya. Menjalankan semua komponen situs pada sebuah komputer juga membatasi ekspansi dan optimalisasi kemungkinan. Anda hanya dapat menambahkan begitu banyak memori atau begitu banyak CPU untuk sebuah server tunggal.
Arsitektur Two-tier
Dalam dua lapis klien / server arsitektur, antarmuka pengguna pengguna ditempatkan di lingkungan desktop dan sistem manajemen database jasa biasanya dalam sebuah server yang lebih kuat merupakan mesin yang menyediakan layanan bagi banyak klien. Pengolahan informasi dibagi antara sistem user interface lingkungan dan lingkungan server manajemen database. Manajemen database server mendukung untuk disimpan prosedur dan pemicu. Vendor perangkat lunak menyediakan alat-alat untuk menyederhanakan pengembangan aplikasi untuk dua lapis klien / server arsitektur.
Arsitektur two-tier lebih aman dan terukur daripada pendekatan single-tier. Pilihan ini bergerak Database Server ke mesin terpisah di belakang firewall yang kedua. Ini menambah keamanan tambahan dengan menghapus data pelanggan sensitif dari DMZ. Memiliki database pada komputer yang terpisah meningkatkan kinerja keseluruhan situs. Kelemahan dari opsi ini adalah biaya yang mahal dan kompleksitas arsitektur.
Arsitektur Three-tier
Arsitektur Three-Tier diperkenalkan untuk mengatasi kelemahan dari arsitektur two-tier. Di tiga tingkatan arsitektur, sebuah middleware digunakan antara sistem user interface lingkungan klien dan server manajemen database lingkungan. Middleware ini diimplementasikan dalam berbagai cara seperti pengolahan transaksi monitor, pesan server atau aplikasi server. The middleware menjalankan fungsi dari antrian, eksekusi aplikasi dan database pementasan. Di samping itu middleware menambahkan penjadwalan dan prioritas untuk bekerja di kemajuan. Three-tier klien / server arsitektur digunakan untuk meningkatkan performa untuk jumlah pengguna yang besar dan juga meningkatkan fleksibilitas ketika dibandingkan dengan pendekatan dua tingkat. Kekurangan dari tiga tingkatan arsitektur adalah bahwa lingkungan pengembangan lebih sulit untuk digunakan daripada pengembangan aplikasi dari dua lapis.
o Three tier dengan pesan server
Pada arsitektur ini, pesan akan diproses dan diprioritaskan asynchronously. Header pesan memiliki prioritas yang mencakup informasi, alamat dan nomor identifikasi. Server pesan link ke relasional DBMS dan sumber data lainnya. Pesan sistem alternatif untuk infrastruktur nirkabel.
o Three tier dengan server aplikasi
Arsitektur ini memungkinkan tubuh utama untuk menjalankan sebuah aplikasi pada tuan rumah bersama bukan di sistem user interface lingkungan klien. Server aplikasi logika bisnis saham, perhitungan dan pengambilan data mesin. . Dalam aplikasi arsitektur ini lebih terukur dan biaya instalasi kurang pada satu server dibandingkan mempertahankan masing-masing pada klien desktop.
Arsitektur three-tier, ditunjukkan pada gambar di atas, memisahkan Web Server ke mesin yang terpisah di DMZ. Pilihan ini, sementara ini adalah yang paling mahal, adalah yang paling aman dan terukur dari tiga pilihan. Masing-masing dari tiga server kini dapat dioptimalkan untuk puncak efisiensi operasi. Fungsi utama Web Server jaringan I / O, Perdagangan Server CPU intensif dan Database Server disk I / O intensif.
Commerce Server yang telah dipindahkan di belakang firewall yang kedua. Ini mengurangi resiko keamanan. Memisahkan Web Server dari Commerce Server memungkinkan horizontal scaling. Seperti di situs penggunaan tumbuh, Commerce Server tambahan dapat ditambahkan dan aplikasi dapat akan di kloning di beberapa komputer. Perhatikan bahwa WebSphere Commerce Professional atau Enterprise diperlukan untuk mendukung horizontal scaling dan Cloning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar