Sabtu, 10 Maret 2012

PRO DAN KONTRA KENAIKAN BBM

Isu kenaikan BBM menjadi hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat. Hal ini biasa terjadi menjelang kenaikan BBM. Pasalnya setiap kenaikan BBM pastilah menimbulkan inflasi yang mendorong naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Namun, terlepas dari itu semua pasti juga ada dampak positif dari kebijakan ini, mulai dari penghematan anggaran hingga penghematan sumberdaya alam.Sehingga kenaikan BBM ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Berikut adalah beberapa argumen mengenai kenaikan BBM:

SBY: Kenaikan Harga BBM Subsidi Selamatkan Anggaran Negara
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan naik seiring dengan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja 2012. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu alasannya. Presiden menilai, kenaikan BBM ini harus dilakukan untuk menyelamatkan anggaran negara.

YLKI: Kenaikan BBM Realistis
Menurut YLKI kenaikan BBM merupakan pilihan yang realistis. Yang terpenting dalam kenaikan BBM ini adalah skema kenaikannya. Jangan sampai meresahkan masyarakat. Menurut Sudaryatmo dalam rirlisnya berpendapat pemberian bantuan langsung tunai (BLT) sebagai paling masuk akal. Tapi Sudaryatmo memberi catatan agar pemerintah lebih jelas mendata siapa dan batasan apa yang menjadi persyaratan penerima BLT.

Pengamat: Kenaikan Harga BBM Pilihan Logis
Menurut Pengamat ekonomi Indef, Ahmad Erani Yustika yang dirilis vivanews.com dia menduga pemerintah lebih memilih menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kenaikan harga ini, menurut dia, merupakan pilihan logis jika dibandingkan opsi pembatasan. Apalagi, hingga saat ini, faktor kesiapannya masih kurang, khususnya dari segi infrastruktur. Namun, Erani mengingatkan dampak dari kenaikan yang perlu diwaspadai.

Anggota Komisi XI DPR-RI :Pemerintah Tidak Perlu Buru-Buru Menaikkan Harga BBM
Menurut Anggota Komisi XI DPR-RI Arif Budimanta yang dirilis korankaltim.co.id mengungkapkan ketika opsi menaikkan BBM jenis Premium dilakukan alias menjadi opsi yang dipilih pemerintah maka hal tersebut dinilai sebagai kebijakan ‘panik’. “Jadi kenaikan harga adalah opsi terakhir, kalau kenaikan dijadikan opsi pertama yang dipilih berarti itu adalah kebijakan panik. Kalau pemerintah cermat dan hati-hati melakukan rekalkulasi anggaran APBN sebenarnya pemerintah tidak perlu buru-buru menaikkan harga BBM,” papar Arif kepada detikFinance di Jakarta, Selasa (8/3). Menurut politisi PDIP ini, kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN dapat dilihat dari 3 sisi, yaitu meningkatnya penerimaan, meningkatnya subsidi dan tergerusnya belanja modal. Hal lain, lanjut Arif pada sisi harga tentu saja kenaikan harga minyak akan berpengaruh terhadap stabilitas harga karena adanya tekanan inflasi.

Organda: Kenaikan BBM Membuat Awak Angkutan Umum Semakin Suram
Menurut Ketua Organda Sudirman dalam rilisnya menyampaikan bahwa Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta menilai kebijakan menaikkan BBM akan membuat kehidupan awak angkutan umum semakin suram. "Sebenarnya saya lebih setuju kalau harganya tidak naik. Pasalnya kenaikan BBM akan memicu naiknya harga spare part kendaraan. Selain itu, kenaikan ini juga akan menaikkan biaya operasional  angkutan umum.

Setiap kebijakan pasti da dampak negatif  dan positif yang dirasakan oleh berbagai pihak. Yang terpenting kenaikan BBM ini tak menambah derita rakyat yang berkepanjangan. Keadaan ekonomi saat ini sudah sulit jangan sampai kenaikan BBM justru akan menambah derita rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar